Jumat, 23 Februari 2018

Penderita Hipertensi Tetap Bisa Olahraga Berikut Penjelasannya

Penderita Hipertensi Tetap Bisa Olahraga Berikut Penjelasannya

Rossana Barack, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah menepis anggapan bahwa olahraga tidak diperbolehkan bagi penderita hipertensi. 

Menurutnya, pasien hipertensi boleh saja berolahraga selama hipertensi belum disertai komplikasi, masih bisa beraktivitas normal, dan tidak memiliki keluhan di tubuh.

Hal ini dia kemukakan dalam acara tahunan Indonesian Society of Hypertension (InaSH) pada Kamis (22/2/2018) di Jakarta. 

Minimal 150 menit dalam seminggu,  pasien hipertensi dianjurkan melakukan olahraga kardiovaskular seperti berjalan santai ( jogging) dan treadmill.

Aktivitas ini dinilai bagus untuk melatih otot jantung dan otot pernapasan.

Sebaiknya pasien harus fokus saat berolahraga. Ini artinya tanpa diselingi kegiatan lain. Tujuannya adalah mendapatkan data penurunan tekanan darah.

“Jalan boleh tapi bukan jalan di mall. Harus yang tanpa gangguan. Kalau di mall nanti mampir makan dan lihat kanan kiri," ujar Rossana.

Dikatakan Rossana, olahraga ringan seperti lari, berenang, dan bersepeda bisa bisa dipilih. Lari selama 30 menit bisa dipadukan dengan berenang, atau variasi olahraga lain.

Namun Rossana mengingatkan, para penderita hipertensi tidak perlu mengikuti olahraga dengan tujuan perlombaan. Pasalnya, itu justru akan memberatkan kerja jantung .

“Penderita hipertensi juga harus melakukan uji latih jantung. Jantung dilihat saat diberikan beban, saat istirahat di sela olahraga,” ujarnya.

Uji latih jantung dipergunakan untuk mengetahui perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah berolahraga. Ini untuk menghindari tekanan darah justru melambung tinggi seusai berolahraga. Hal ini terjadi karena respon jantung pada tiap orang berbeda.

“Katakanlah saat beristirahat sebelum olahraga tensi normal sebesar 110/70 mmHg atau 130/80 mmHg, baru tiga menit dikasih beban sudah memberi respon naik drastis jadi 200/100 mmHg,” katanya.

Kondisi tersebut menandakan seseorang harus mengganti atau mengurangi jenis olahraga yang dipilih. Jantung dipaksa memompa darah lebih kuat karena aktivitas yang dilakukan terlalu berat.

Rossana menyebut, jika seseorang yang rajin berolahraga tensi memang bakal naik saat olahraga berlangsung, namun akan menurun saat selesai olahraga. Jika tekanan darah justru menurun tepat waktu olahraga, dikhawatirkan ada risiko jantung koroner.

Pada kesempatan tersebut Arieska Ann Soenarta, dokter sekaligus pakar hipertensi, juga menambahkan bahwa pemilihan olahraga bagi penderita hipertensi harus melibatkan dokter terlebih dahulu.

Pasalnya, olahraga malah bisa menimbulkan penyakit serius hingga kematian. Jantung dipaksa bekerja lebih kuat di luar kemampuan.

“Ketika olahraga tensi justru turun, padahal kontraksi otot jantung kan menaikkan. Ini juga bahaya,” ujarnya.

Sadis Rekaman Anjing yang di Jadikan Santapan Buaya

Sadis Rekaman Anjing yang di Jadikan Santapan Buaya

Aksi bocah melemparkan seekor anak anjing ke dalam kolam tambang berisi buaya mendadak viral. Kejadian di daerah Belinyu Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, tersebut sengaja direkam dan diunggah di media sosial.

Aktivis Animal Lovers Bangka Belitung (Alobi), Andre, membenarkan adanya kejadian yang menghebohkan tersebut. Alobi, kata Andre, telah turun ke lokasi setelah menerima laporan warga.

“Warga melapor adanya rekaman video yang diunggah di laman Facebook. Kami investigasi di lapangan, memang kolam bekas tambang timah itu dihuni buaya liar,” kata Andre, Jumat (23/2/2018).

Andre mengungkapkan, pelaku yang tergolong anak di bawah umur melakukan aksinya hanya untuk bersenang-senang. Kolam bekas penambangan diperkirakan dihuni lima ekor buaya berukuran tiga sampai lima meter.

Warga sekitar diketahui kerap memberi makan buaya dengan bangkai ayam. Belakangan, beberapa orang sengaja melemparkan hewan hidup karena bergerak di dalam air dan direspons buaya dengan cepat.

“Kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar kolam tambang tersebut dikelola sebagai objek wisata. Jangan ada lagi yang memberi makan buaya dengan hewan hidup hanya untuk main-main,” ujarnya.

Video berdurasi 36 detik memerlihatkan seseorang mengeluarkan seekor anak anjing warna hitam dari dalam karung dan kemudian melemparkannya ke kolam tambang.

Anak anjing itu tampak berusaha menyelamatkan diri dengan mencoba berenang, namun tidak lama berselang langsung diterkam buaya yang muncul dari dalam air.
Februari 23, 2018 | Kategori:

Pandangan Parpol di Masyarakat Indonesia

Pandangan Parpol di Masyarakat Indonesia

Alvara Research Center merilis survei terbarunya mengenai partai politik. Salah satu yang menarik adalah citra partai dimata masyarakat. Survei yang melibatkan 2.200 responden itu memperlihatkan adanya pengelompokan citra partai-partai yang ada di Indonesia saat ini.

"Di sini ada citra partai agamis, nasionalis, dan lainnya," ujar CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali di Jakarta, Jumat (23/2/2018).

Pertama, partai dengan citra partai agamis. Mayoritas responden menilai beberapa partai lekat dengan agama Islam atau NU yang meliputi PAN, PKS, PKB, PPP, dan PBB.

PKB misalnya, saat responden ditanya hal apa yang terlintas dalam benak saat mendengar PKB, 33,2 persen responden menjawah partai orang NU dan 30,1 persen partai Islam. Begitu pula dengan PPP, PKS, PAN, dan PBB.

Kedua, partai nasionalis dan mengakar. Dalam survei Alvara, partai dengan citra tersebut yaitu PDI-P dan Golkar. Selain itu, kedua partai ini pula dicitrakan sebagai partai yang dekat dengan rakyat, solid, dan memiliki ideologi kuat.

Ketiga, partai dengan tokoh kharismatik. Responden menilai partai-partai yang memiliki tokoh kuat, yaitu Demokrat, Gerindra, Hanura, dan Nasdem.

Seperti diketahui, Demokrat memiliki Susilo Bambang Yudhoyono, Gerindra memiliki Prabowo, Hanura mempunyai Wiranto, dan Nasdem mempunyai Surya Paloh.

Selain partai ini, partai lainnya juga masih dipersepsikan memiliki ketergantungan kepada sosok. PDI-P dengan Megawatinya, PAN dengan Amien Rais, dan Perindo dengan Hary Tanoe.

Di luar itu, beberapa partai memiliki persepsi tersendiri di mata para responden.

Misalnya, Golkar dengan Setya Novanto, Demokrat dengan persepsi korupsi, PAN partai Muhammadyah, Nasdem dengan Metro TV, atau Perindo dengan iklan televisi.

Bicara popularitas, survei Alvara mengungkapkan tiga partai yang memiliki popularitas tertinggi. Partai tersebut adalah PDI-P (39,8 persen), Gerindra (16,2 persen), dan Golkar (15,4 persen).

Survei Alvara dilakukan dengan metode wawancara tatap muka kepada 2.200 responden yang berusia 17-65 tahun dengan margin of error 2 persen.

Survei dilaksanakan pada 15 Januari-7 Februari 2018 di enam wilayah besar, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Maluku-Papua.
Februari 23, 2018 | Kategori: